Tak tahan dengan penderitaan dan tergoda oleh impian indah, orangtuanya memutuskan mengirimnya ke Amerika ketika Ying Ma berusia 10 tahun. Ia terbang bersama kakaknya ke Oakland untuk tinggal bersama kerabatnya. Beberapa bulan kemudian orangtuanya menyusul.
Pada kenyataannya tak mudah hidup di Amerika bagi keluarga imigran. Bahkan Ma mengaku sempat sangat trauma mengenang awal-awal tinggal di Negeri Paman Sam. Sebagai anak keturunan Asia, di Oakland ia mendapat perlakukan pahit dari sejumlah warga dan menjadi sasaran kekerasan. Mereka juga sering diperas dan dirampok.
Untuk menopang penghidupannya ayah dan ibunya bekerja. Ibunya menjadi penjahit sedangkan ayahnya jadi pemotong ikan di pasar. Kengerian juga dituturkan ayah dan ibunya yang menyebutkan bahwa sebagai imigran China mereka diperlakukan tidak adil oleh pemberi kerja. Bahkan dianggap seperti separuh manusia. Namun keadaan itu tetap harus dijalani dengan harapan suatu kali akan terjadi perubahan.
Ma sendiri kemudian melanjutkan sekolah di sana. Meski tertatih-tatih karena belum bisa berbahasa Inggris, lama-kelamaan sekolahnya berlangsung baik. Namun pernah suatu kali ia kecewa dengan nilai sekolahnya. Pada saat ia harus membuat paper, karena tak memiliki komputer, ia menulis sendiri paper hingga sepanjang 40 halaman. Tetapi saat dinilai, hasilnya mengecewakan. Sedangkan nilai teman-temannya jauh lebih baik. Saat itu ia berpikiran, nilai baik teman-temannya karena paper-nya ditulis di komputer dan di-print. Sedangkan gurunya tak membaca paper-nya karena tulisan tangan. Ketika kakaknya tahu hal itu, ia menabung untuk membeli komputer. Sampai suatu kali akhirnya Ma bisa memiliki komputer.
Ternyata Ma adalah gadis yang cerdas. Sekolahnya terus berlangsung hingga bisa meraih gelar bachelor dari Cornell University dan gelar sarjananya dari Stanford Law School. Ia juga menjadi aktivis kampus hingga diandalkan teman-temannya. Di antara kegiatan kampusnya adalah menjadi Presiden The Cornell Review, majalah dua-mingguan di kampusnya dan menjadi Presiden Stanford Chapter of the Federalist Society for Law and Public Policy Studies, yaitu organisasi yang didedikasikan untuk menjaga prinsip-prinsip kebebasan yang bertanggung jawab.
Setelah lulus kuliah ia bekerja di perusahaan besar yang masuk Fortune 500, SDB Partners, di mana posisinya saat ini wakil presiden. Karena kemampuannya dan reputasinya ia sempat juga diangkat menjadi anggota Dewan Hubungan Luar Negeri AS pada periode tahun 2007-2012. Beberapa kali ia mendapat tugas negara dalam kaitannya dengan hubungan AS-China dan negara Asia lainnya. Pendeknya, sebagai imigran Ma adalah sosok yang berhasil berkat ketekunannya menempuh pendidikan. “Ketika saya tinggal di lingkungan kumuh yang keras (di Oakland) saya memiliki keluarga dan buku. Dari keluarga dan buku saya belajar bahwa pendidikan itu penting,” kata perempuan kelahiran akhir tahun 1970-an itu. Itulah yang mendorongnya terus ingin sekolah hingga sukses menjadi tokoh terpandang Amerika saat ini.
sumber ; http://www.andriewongso.com/articles/details/12640/Ying-Ma-2C-Menaklukkan-Amerika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar