Verma adalah anak keluarga miskin yang tinggal di pedalaman India bagian utara. Ia anak kedua dari lima bersaudara. Ayahnya hanya seorang kuli bangunan dengan gaji harian 200 rupee atau kurang dari US$3,5 (sekitar Rp35.000) sehari. Di rumahnya mereka tak memiliki harta berharga selain meja belajar dan komputer bekas. Namun kondisi itu justru mendorong Verma giat belajar.
Ambisi berikutnya membuat banyak orang berdecak kagum. Ia, katanya, ingin melanjutkan kuliah dengan menempuh program dokter. Namun karena batas minimal untuk mengikuti program dokter itu 18 tahun, ia putuskan untuk mengambil program master (MSc) di bidang bioteknologi dan diterima di Lucknow University (LU), Lucknow, Uttar Pradesh, India.
Ketika diterima di universitas itu, biaya yang dibutuhkan tidak kecil, 800.000 rupee (sekitar US$12.600). Ayahnya kemudian menjual satu-satunya harta yaitu tanah seluas 930 m2. Itu pun tak cukup karena hanya laku 25.000 rupee (sekitar US$400). Untungnya banyak yang mendengar kisah hidupnya sehingga ada sejumlah lembaga yang menyumbang biaya sekolahnya.
Di keluarga ini ternyata bukan cuma Verma yang jenius. Kakak Verma, Shailendra, juga lulus SMA ketika usianya masih di bawah 10 tahun. Ia kemudian kuliah dan lulus di bidang ilmu komputer saat usianya 14 tahun. Saat ini Shailendra sedang menempuh pendidikan master di bidang komputer di St. John College di Bangalore.
“Anak perempuan ini (Verma) memberikan inspirasi pada murid-murid dari keluarga elit yang lahir di tengah keluarga yang berkelebihan,” kata Dr. Bindeshwar Pathak dari Sulabh International, yang kemudian memutuskan untuk membantu biaya kuliah Verma setelah melihat profilnya di saluran televisi lokal. Terbukti miskin tak menyurutkan sikap keluarga ini untuk terus mendorong anak-anak jenius mereka meraih sekolah setinggi-tingginya. Dan ternyata pula dukungan datang dari berbagai pihak.
http://www.andriewongso.com/articles/details/11523/Keluarga-Miskin-Ini-Memiliki-Anak-Anak-Jenius
Tidak ada komentar:
Posting Komentar