Senin, 08 September 2014

Lahir Miskin Tak Berarti Harus Miskin


Lama setelah ia membuktikan dirinya sebagai salah satu pengusaha terkemuka di Amerika dan juga pengusaha baja termasyhur dalam sejarah, Andrew Carnegie mengemukakan pendapatnya tentang mental. "Kita semua hidup di negara terkaya dan paling bebas di dunia, di mana tidak ada orang yang dibatasi kecuali oleh sikap mentalnya dan keinginannya,” katanya.

Ia menjadi bukti dari pernyataannya itu. Carnegie lahir di Dunfermline, Fife, Skotlandia pada 25 November 1835. Keluarganya adalah keluarga sederhana yang tinggal di pondok para penenun yang khas. Satu rumah digunakan ramai-ramai bersama para tetangga. Ruang utama digunakan bersama dan sekaligus tempat tidur bersama pula.

Ketika ekonomi Inggris sulit, ayahnya, William Carnegie, memutuskan untuk pindah ke Allegheny, Pennsylvania, AS untuk memperbaiki hidup. Agar bisa mengangkut seluruh keluarganya William harus meminjam uang dari kerabat.

Sampai di Allegheny tahun 1948, ia terkejut karena ternyata wilayah itu merupakan daerah miskin. Ayahnya sendiri memulai hidup baru sebagai pemintal kapas dengan pendapatan yang minim. Baru penghasilannya sedikit membaik ketika menjadi tukang tenun sekaligus menyambi sebagai penjaja kain linen. Andrew kemudian ikut bekerja di sebuah pabrik tenun sebagai tukang gulung benang dengan gaji US$1,2 per minggu.

Uang itu tak banyak, tetapi Carnegie melihatnya cukup. Ia tak mengeluh. Yang dilakukannya adalah ia ingin menunjukkan bahwa dedikasinya tinggi pada pekerjaan. Ia juga menjadikan pekerjaan pertamanya sebagai tempat belajar.

Ternyata dengan sikap seperti itu, menarik seseorang untuk menawarkan pekerjaan baru sebagai tukang antar telegram di O’Reilly’s Telegraph Company, dengan gaji lebih dari dua kali lipat. Selain gaji US$2,5 seminggu ia juga mendapat karcis gratis untuk nonton pertunjukan di teater lokal. Namun yang membuatnya senang, sebagai pengantar telegram ia jadi punya kesempaan bertemu dengan banyak orang penting dan menjalin hubungan dengan mereka.

Selain itu, ketelatenannya menunggu telegram sampai-sampai ia bisa mengenali pesan telegram yang masuk hanya dari suaranya saja. Kemampuannya itu membuat Andrew dipromosikan menjadi operator hanya dalam waktu setahun sejak ia bekerja di situ. Konon hanya ada dua orang di Amerika saat itu yang bisa membaca telegram hanya dari suaranya.

Selain bekerja tekun, ia juga memiliki semangat belajar tinggi. Sadar bahwa sekolahnya rendah ia meminjam buku-buku dari perpustakaan milik Colonel James Anderson, seorang tokoh yang membuka perpustakaan pribadinya di malam hari bagi anak-anak yang bekerja. Lagi-lagi sikapnya ini dan kemampuannya membaca telegram menarik perhatian banyak orang. Thomas A. Scott seorang kepala stasiun Pennsylvania menawarinya pekerjaan baru sebagai asistennya. Gajinya berlipat-lipat menjadi US$35 sebulan, padahal saat itu ia baru berusia 18 tahun. Kesempatan itu tak ia sia-siakan.

Dari hasil pekerjaannya Andrew bisa menabung. Tahun 1955 ia bisa ikut menanam investasi di perusahaan kargo Adams Express sebesar US$500. Inilah awalnya ia memulai hidup sebagai pengusaha. Ia kemudian tumbuh menjadi industrialis baja terkenal di dunia dan menjadi orang terkaya di dunia.

Sisi lain yang menarik dari Andrew Carnegie adalah jiwa dermawannya. Ketika ia meninggal pada 11 Agustus 1919, ia telah memberikan sumbangan sebesar US$350 juta yang jika dihitung dengan kurs tahun 2010 berarti sebesar US$30 miliar (sekitar Rp 285 triliun).  “Orang yang tidak mampu memotivasi dirinya sendiri akan menjadi orang yang biasa-biasa saja, tidak peduli kendatipun ia memiliki bakat lain yang luar biasa,” katanya. Dan ia selalu mendapat motivasi dari dalam dirinya. Seperti itulah karakter Andrew Carnegie.

 http://www.andriewongso.com/articles/details/10634/Lahir-Miskin-Tak-Berarti-Harus-Miskin

Spirit Mendidik Seorang Pengusaha


Salah seorang tokoh yang identik dengan Xiamen, wilayah yang ada di Provinsi Fujian, China, adalah Tan Kah Kee. Meski ia sudah tak ada lagi, akan mudah menelusuri jejaknya di sana. Di kampus Xiamen University berdiri patungnya sebagai tokoh pendiri universitas itu.

Tan lahir di Jimei, Xiamen, pada 21 Oktober 1874. Ia dibesarkan di Xiamen sampai usia 16 tahun. Setelah itu pergi ke Singapura untuk bekerja di toko milik ayahnya yang berjualan beras. Sayangnya bisnis ayahnya tak langgeng. Sekitar tahun 1903 bisnis sang ayah bangkrut. Namun itu tak menyurutkan semangatnya. Tan justru mendirikan bisnis sendiri.

Awalnya ia berjualan nanas sampai bisa membayar hutang ayahnya. Setelah sukses, ia mencoba bisnis beras seperti yang ayahnya lakukan dulu. Tetapi bedanya ia hanya menjalankan bisnis transportasinya saja untuk mengangkut beras lintas negara. Tak lama kemudian bisa merambah bisnis lain seperti penggergajian kayu, pabrik gula, ekspor-impor aneka barang, real estate, dan sebagainya. Perkembangan itu terlihat nyata dalam periode tahun 1912-1914. Ia pun jadi pebisnis yang diperhitungkan di kawasan ASEAN. Karena cepatnya perkembangan bisnis Tan, ia sampai dijuluki “Henry Ford of the Malaya Community” baik di kalangan pengusaha Malaya maupun Fujian.

Sukses yang didapatnya tak melulu untuk mengembangkan bisnis. Satu kesadaran yang dipegangnya adalah bahwa hanya pendidikan yang akan mengubah seseorang menjadi maju. Bahkan pendidikan pula yang akan membawa suatu negara menjadi negara maju. Atas kesadaran ini, pada tahun 1912 ia kembali ke Jimei dan mendirikan Jimei School tahun 1913.

Tan sangat strategis mengembangkan pendidikannya. Untuk menunjang agar pendidikan berkesinambungan, ia juga mendirikan sekolah pendidikan guru. Jimei School sendiri kemudian berkembang menjadi kompleks pendidikan terpadu mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, institut yang menyediakan pendidikan di bidang pertanian, navigasi, perdagangan, kehutanan, kelautan, dan sebagainya. Untuk menarik minat agar anak-anak berprestasi mau sekolah di sana, Tan menawarkan sekolah gratis hingga ke jenjang perguruan tinggi (institut) di situ. Tahun 1996 institut itu menjadi Jimei University yang mahasiswanya mencapai 20.000 orang.

Sebelum memiliki universitas itu, Tan sebenarnya sudah mendirikan universitas lain di Xiamen yaitu Xiamen University pada tahun 1921. Ia terus membiayai dan mengelola universitas itu hingga tahun 1937 sebelum diambil-alih dan dikelola pemerintah China.

Menurut sebuah catatan, Tan telah mengeluarkan dana sekitar US$100 juta untuk dunia pendidikan baik di China maupun di luar negeri. Karena tingginya peran Tan di dunia pendidikan ini, peraih Nobel asal China, Prof. CN Yang menggagas penyelenggaraan Tan Kah Kee Inventors’ Award. Bahkan tahun 1992 Prof Yang dan dua peraih Nobel lain, Prof Samuel CC Ting dan Prof Li Yuan Tseh serta sejumlah tokoh pendidikan lainnya sepakat mendirikan Tan Kah Kee International Society Foundation karena ingin melestarikan spirit Tan Kah Kee dalam dunia pendidikan.


http://www.andriewongso.com/articles/details/10704/Spirit-Mendidik-Seorang-Pengusaha

Keluarga Miskin Ini Memiliki Anak-Anak Jenius



Verma adalah anak keluarga miskin yang tinggal di pedalaman India bagian utara. Ia anak kedua dari lima bersaudara. Ayahnya hanya seorang kuli bangunan dengan gaji harian 200 rupee atau kurang dari US$3,5 (sekitar Rp35.000) sehari. Di rumahnya mereka tak memiliki harta berharga selain meja belajar dan komputer bekas. Namun kondisi itu justru mendorong Verma giat belajar.

Verma tak mengeluhkan kekurangan itu, malah sebaliknya, hal itu justru menjadi hal yang memotivasi. “Dengan tak memiliki televisi, satu-satu tugas saya di rumah adalah belajar,” katanya. Dengan prinsip seperti itu, seperti ditulis Daily News, Verma sudah lulus SMA ketika usianya baru 7 tahun. Segera setelah itu ia melanjutkan kuliah dan lulus saat usianya 13 tahun.

Ambisi berikutnya membuat banyak orang berdecak kagum. Ia, katanya, ingin melanjutkan kuliah dengan menempuh program dokter. Namun karena batas minimal untuk mengikuti program dokter itu 18 tahun, ia putuskan untuk mengambil program master (MSc) di bidang bioteknologi dan diterima di Lucknow University (LU), Lucknow, Uttar Pradesh, India.

Ketika diterima di universitas itu, biaya yang dibutuhkan tidak kecil, 800.000 rupee (sekitar US$12.600). Ayahnya kemudian menjual satu-satunya harta yaitu tanah seluas 930 m2. Itu pun tak cukup karena hanya laku 25.000 rupee (sekitar US$400). Untungnya banyak yang mendengar kisah hidupnya sehingga ada sejumlah lembaga yang menyumbang biaya sekolahnya.

Menurut Verma, ia merasa beruntung hidup di tengah keluarga yang meskipun miskin tetapi orangtuanya paham bahwa untuk mengubah masa depannya adalah dengan sekolah setinggi-tingginya. Pengorbanan dengan menjual tanah itu, misalnya, menurut ayah Verma, bukan tak mendapat penentangan. “Saya mendapat tentangan baik dari keluarga maupun teman-teman saya,” ujar Tej Bahadur Verma, 50 tahun, ayah Verma. Maklumlah, di India, masih banyak orangtua yang lebih mementingkan sekolah bagi anak laki-laki ketimbang perempuan sepintar apa pun si anak. Karena itu banyak anak perempuan yang tinggal di rumah menunggu saatnya menikah. Ternyata orangtua Verma menyimpang dari tradisi itu dengan terus mendukung pendidikan Verma. Ayah Verma selalu mengantarnya dengan mengendarai sepeda.

Di keluarga ini ternyata bukan cuma Verma yang jenius. Kakak Verma, Shailendra, juga lulus SMA ketika usianya masih di bawah 10 tahun. Ia kemudian kuliah dan lulus di bidang ilmu komputer saat usianya 14 tahun. Saat ini Shailendra sedang menempuh pendidikan master di bidang komputer di St. John College di Bangalore.

“Anak perempuan ini (Verma) memberikan inspirasi pada murid-murid dari keluarga elit yang lahir di tengah keluarga yang berkelebihan,” kata Dr. Bindeshwar Pathak dari Sulabh International, yang kemudian memutuskan untuk membantu biaya kuliah Verma setelah melihat profilnya di saluran televisi lokal. Terbukti miskin tak menyurutkan sikap keluarga ini untuk terus mendorong anak-anak jenius mereka meraih sekolah setinggi-tingginya. Dan ternyata pula dukungan datang dari berbagai pihak.

 http://www.andriewongso.com/articles/details/11523/Keluarga-Miskin-Ini-Memiliki-Anak-Anak-Jenius

Pebisnis Dunia Kendalikan Bisnisnya dari Pulau Terpencil Indonesia


Gauthier Toulemonde, pengusaha Prancis ini ingin mencoba bagaimana jadinya jika perusahaannya dikendalikan dari jarak jauh dari suatu pulau terpencil yang tak berpenghuni. Keinginan itu akan ia coba selama 40 hari yang dimulai pertengahan Oktober 2013 ini. Tak dijelaskan pulau terpencil Indonesia mana yang ia pilih sebagai base-camp-nya nanti.

Toulemonde, 54 tahun, adalah mantan petualang yang telah melakukan ekspedisi ke berbagai penjuru dunia termasuk menjelajahi Kutub Utara dan sungai Amazon. Sejak 2003 ia mendirikan perusahaan sendiri bernama Timbropresse, sebuah perusahaan media yang berbasis di Paris. Ia mempekerjakan sembilan orang plus editor untuk menerbitkan dua majalahnya. Selain majalah perusahaannya juga bergerak di bidang koleksi perangko dan bisnis properti. “Saya akan mencoba melanjutkan kerja saya seolah-olah saya berada di kantor di Paris,” katanya.

Sebagai alat komunikasi ia akan menggunakan piranti telepon satelit. Untuk set-up perlengkapan itu, tiga hari pertama ia akan ditemani Raphaƫl Domjan, petualang asal Swedia, yang akan memasangnya. Setelah itu ia akan ditinggal sendiri dengan tempat tinggal tenda.

Jangan dikira tinggal di sana akan enak karena di pulau itu tak ada air tawar. Untuk kebutuhannya ia membawa alat penyuling air tawar dari air laut. Untuk kebutuhan listriknya ia gunakan solar cell (tenaga surya). Jadi ini benar-benar petualangan gaya baru sambil tetap berbisnis.

http://www.andriewongso.com/articles/details/11668/Pebisnis-Dunia-Kendalikan-Bisnisnya-dari-Pulau-Terpencil-Indonesia

Tak Ada Salahnya Jadi Orang Kaya


“Menjadi orang kaya itu baik. Tak hanya menguntungkan bagi kita dan keluarga kita tetapi juga dalam arti yang lebih luas.” Itulah ucapan pebisnis Mark Cuban, lelaki kelahiran 31 Juli 1958, yang kini mengelola klub basket NBA Dallas Maverick dan menjalankan bisnis TV kabel di Amerika. Ia salah satu orang terkaya di dunia dengan kekayaan yang menurut Majalah Forbes sebesar US$2,4 miliar.

Mark Cuban dibesarkan di tengah keluarga sederhana. Ayahnya hanya seorang tukang pasang jok mobil. Karena kondisi kehidupan ayahnya seperti itu Cuban sudah belajar mencari uang sendiri sejak usia 12 tahun untuk memenuhi kebutuhannya. Saat ia menginginkan sepatu basket yang mahal, misalnya, ia terpaksa harus mengumpulkannya dengan cara berjualan plastik-plastik buat mengemas sampah.

Setelah itu sambil sekolah ia juga mengumpulkan uang dengan kerja sambilan mulai dari jadi bartender, instruktur dansa, hingga promotor pesta buat rekan-rekannya. Dari kerja inilah ia bisa membiayai kuliahnya.

Ia kuliah di University of Pittburgh. Namun baru setahun kemudian pindah ke Indiana University, dan akhirnya lulus dengan meraih gelar bachelor bidang administras bisnis pada tahun 1981. Saat masih kuliah, dengan uang yang dikumpulkannya ia mampu membeli pub tempat hangout teman-teman kampusnya, Motley’s Pub.

Tahun 1982 ia memutuskan berkelana ke Dallas setelah terbujuk cerita temannya yang menggambarkan betapa indahnya Dallas. Di sinilah ia mulai sering jalan-jalan melihat-lihat rumah mewah agar dirinya termotivasi mencari uang. “Saya suka keliling-keliling melihat-lihat rumah-rumah besar dan membayangkan bagaimana rasanya jika tinggal di sana. Itu saya gunakan sebagai motivasi,” katanya. Saat itu ia bekerja sebagai salesman software dari perusahaan software komputer Your Business Software.

Di perusahaan ini ia hanya setahun karena kemudian menemukan peluang bisnis. Cuban membangun bisnis sendiri bernama MicroSolution dengan dukungan dari kliennya yang ia temukan saat menjajakan software. Perusahaan ini berkembang baik. Namun tahun 1990 ia menjualnya ke kliennya, CompuServe, dengan nilai US$ 6 juta. Dari hasil penjualan itu ia mendirikan Audionet (sekarang Broadcast.com), radio berbasis internet. Perusahaan ini berkembang pesat. Sampai-sampai Yahoo membelinya dengan nilai yang fantastis US$5,9 miliar.

Hasil penjualan itu ia gunakan untuk cari perusahaan lewat pasar modal yang kemudian membuatnya menjadi salah satu pengusaha terkaya di dunia. Tahun 2013 ini Forbes memasukkannya dalam deretan orang terkaya dunia urutan ke-613 dengan kekayaan sebesar US$2,4 miliar. Apa rahasia suksesnya? “Apa yang saya pelajari selama 11 tahun adalah bahwa kita harus fokus dan percaya pada kemampuan kita sendiri,” katanya.

 http://www.andriewongso.com/articles/details/12278/Tak-Ada-Salahnya-Jadi-Orang-Kaya

8 Spirit Luar Biasa Bruce Lee

27 November 1940 Bruce Lee lahir. Jika masih hidup, Bruce Lee tepat berusia 73 tahun. Yang luar biasa, meski ia meninggal 40 tahun lalu, spirit, motivasi, dan kenangannya melekat kuat pada jutaan penggemarnya di seluruh dunia. Meski bintang-bintang kung fu baru bermunculan dari generasi ke generasi seperti Chen Lung (Jackie Chan), Jet Li, dan Donni Yen, nama Bruce Lee sebagai bintang film laga Hong Kong yang mendunia tak bisa tersisihkan. Ia melekat kuat sebagai ikon film laga yang mempengaruhi industri film dunia, bahkan termasuk menyumbang perubahan pada perkembangan film laga Hollywood.

Bruce Lee sangat menghargai kreativitas. Ia mengungkapkan bahwa ide orisinal adalah harta berharga yang harus dikembangkan oleh setiap orang. Karena itu, ketika ia mulai terlibat dalam pembuatan film, tak hanya modal akting, ia juga menawarkan ide-ide orisinal hingga mempengaruhi perkembangan industri film Hollywood. Sampai-sampai Bruce Lee merasuki banyak orang. Gaya hidupnya ditiru mulai dari gaya rambut, pakaian, hingga sepatu. Duplikat-duplikat Bruce Lee pun muncul di mana-mana meskipun cuma tampilannya saja. Semua ingin menjadi Bruce Lee.

Bruce Lee tak hanya dikenal oleh mereka yang menikmati film-filmnya pada sekitar tahun 1970-an namun oleh anak-anak zaman sekarang yang mungkin tak sempat menonton film-filmnya. Nama Bruce Lee selalu berada di urutan pertama sebagai bintang film kungfu sepanjang masa. Karena itu Bruce Lee sudah dianggap legenda.

Saya pribadi pada tahun 1970-an dan orang-orang sebaya saya saat itu sangat menggemari Bruce Lee. Film-filmnya menjadi buruan untuk ditonton, tidak hanya sekali dua kali, setiap film bisa ditonton berkali-kali. Sampai sekarang pun saya masih suka mengulang menonton film-filmnya.

Di dalam filmnya terkandung spirit kehidupan yang tidak hanya bermanfaat untuk ilmu atau seni beladiri tetapi menjadi dasar kehidupan sehari-hari yang penuh dengan pedoman kebijaksanaan (wisdom) dan motivasi diri untuk meraih sukses. Saya yang juga belajar dan melatih kung fu saat itu menaruh respek pada Bruce Lee, bukan hanya karena karya-karya filmnya yang enak ditonton dan inspiratif tetapi juga pada apa yang ada di balik karyanya itu. Film hanyalah gambaran terbatas dari pemikirannya. Jauh di belakangnya, ada segudang ide, semangat hidup, semangat pantang menyerah, kegigihan belajar untuk memperbaiki diri, filosofi, yang pantas untuk dipelajari dan diterapkan. Karena itu mengenang Bruce Lee tak hanya mengenang film-filmnya, tetapi juga mengingat, memahami, dan menyerap filosofi hidupnya yang kaya. Itulah Bruce Lee.

Saya banyak terpengaruh oleh Bruce Lee terutama dalam membangun kekuatan mental dan fisik melalui latihan kungfu. Saya mendalami ilmu beladiri kungfu kurang lebih 30 tahun dan merasakan manfaatnya sebagai pegangan kehidupan dan pengendalian diri. “Satu bagian hidupku adalah kungfu. Seni beladiri ini begitu mempengaruhi pembentukan karakter dan ide-ideku. Aku berlatih kungfu sebagai kebudayaan badani, bentuk latihan mental, metode beladiri, dan jalan hidup,” begitu ungkapan Bruce Lee yang sangat inspiratif.

Bruce Lee boleh meninggal, tapi seperti juga para filsuf lain yang sudah lama meninggal, ajaran dan filosofinya masih hidup sampai kini.  Filosofi sukses Bruce Lee bisa diterapkan dalam berbagai kehidupan terutama dalam bidang-bidang kompetitif seperti pengusaha, salesman, marketer, atlet, dan sebagainya. Saya menemukan ada 8 spirit Bruce Lee yang pantas dicermati dan diambil sari patinya untuk diterapkan, yakni:

1. Self-Image - Citra Diri
Bruce Lee memiliki citra diri positif. Ketika ditanya wartawan majalah Blackbelt tahun 1967, “Di mana posisi kehebatan Anda saat ini di Amerika?” Bruce Lee menjawab, “Jika saya bilang saya momor satu, Anda mungkin mengatakan saya pembual. Tetapi jika Anda bilang saya nomor dua, saya tidak bisa menerima.”
Bukan kesombongan yang ingin ia kemukakan dengan pernyataannya itu tetapi kejujuran dan rasa penuh percaya diri yang alami. Kejujuran yang menunjukkan aktualisasi diri yang ia raih dari hasil kerja keras, disiplin, dedikasi, pantang putus asa, dan berkemauan tinggi. Itulah citra diri positif yang dimiliki Bruce Lee.

2.Think Big – Berpikir Besar
Bruce Lee selalu berpikir besar. Ketika ingin membuka sekolah kungfu ia merancangnya agar bisa menyebarkan kungfu ke seluruh Amerika bahkan dalam kurun waktu yang sudah ia tetapkan, 10-15 tahun. Begitupun ketika ia terjun jadi bintang film, ia menargetkan untuk menjadi super star Asia yang berpendapatan tertinggi di Amerika. Dengan kekuatan pikiran yang besar, terbukti 5 filmnya yang terakhir (The Big Boss, Fist of Fury, The Way of the Dragon, Enter the Dragon, dan Game of Death) bisa jadi top box office.

3. Self-Actualization – Aktualisasi Diri
Berdasarkan konsep aktualisasi diri Abraham Maslow, seorang psikolog legendaris dari AS, ada 5 tingkatan kebutuhan hidup manusia yaitu kebutuhan dasar, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan prestasi, dan aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah kebutuhan tertinggi manusia. Aktualisasi diri ditandai dengan sikap spontanitas, keterbukaan, hubungan dengan orang lain yang relatif dekat dan demokratis, kreatif, humoris, dan mandiri. Bruce Lee sudah membuktikan dan mampu mengaktualisasikan diri melalui semangat perjuangan yang keras.

4. Action – Aksi
Banyak hal yang ia sebutkan mengenai pentingnya “action”. Tak ada sukses yang terjadi tanpa tindakan. Sekecil apa pun sebuah langkah akan berarti di kemudian hari. “Knowing is not enough, you must apply, willing is not enough, you must do,” kata Bruce Lee. Tahu saja tidak cukup, Anda harus mengaplikasikannya, ingin saja tidak cukup Anda harus melakukannya.

5. Skill/Jeet Kune Do
Bruce Lee menciptakan ilmu bela diri baru bernama Jeet Kune Do yang ia ramu dari berbagai ilmu seperti kungfu tradisional, Wing Chun, taekwondo, tinju, karate, bahkan dance. Dasar dari ilmu beladiri Jeet Kune Do adalah kepraktisan, spontanitas, efisien, fleksibilitas, kecepatan dan kekuatan. Dari skill yang dia miliki dan mampu ia kembangkan akhirnya Bruce Lee bisa meraih keberhasilan yang spektakuler.

6. Brave – Keberanian
Bruce Lee adalah sosok pemberani tulen. Selain melahirkan Jeet Kune Do yang mendobrak tatanan sakral kungfu tradisional ia juga berani menawarkan konsep-konsep baru ke Hollywood. Lihat saja, bagaimana ia memunculkan jagoan Asia (diperankan oleh dirinya) yang digambarkan mampu mengalahkan jagoan Barat yang sedang populer pada saat itu. Ia tak takut idenya akan ditolak Amerika atau pasar lain yang terbiasa menyaksikan jagoan Barat yang menang. Dari lima filmnya yang dibuat di Hongkong terbukti berhasil menembus Amerika dan dunia.

Dalam keseharian ia adalah pemberani sejati, tidak takut gagal, dan selalu berinovasi. Cita-citanya tinggi yang menggambarkan keberaniannya. “Penyakit manusia terbesar adalah berkeinginan terlalu kecil,” katanya.

7. Adaptive – Adaptif
Seperti filosofinya yang terkenal “Be water, friend!”, Bruce Lee laksana air. Ia bisa masuk ke mana saja dan bisa bergaul dengan siapa saja. Menjadi seperti air berarti fleksibel, tak berarti lemah. Di dalamnya tersimpan kelembutan dan kekuatan sekaligus kebijaksanaan. Itulah sifat air, dan itulah Bruce Lee, adaptif.

8. Consistence – Konsisten
Sejak kecil Bruce Lee konsisten dengan keinginannya mengembangkan dan menyebarkan kungfu. Dan jika ia kemudian sukses sebagai bintang film kungfu, itu merupakan hasil langsung dari konsistensinya yang kukuh terhadap ilmu beladiri kungfu.

Kalau kita renungkan, kedelapan poin yang dimiliki Bruce Lee itu sebenarnya juga kita miliki. Jika Bruce Lee mampu mengembangkan diri sedemikian rupa, sejatinya kita juga harus mampu mengembangkan delapan potensi diri kita sesuai bidang yang kita geluti, karena kita semua memiliki hak untuk sukses.  Seperti yang sering saya kemukakan, tidak peduli bagaimanapun keadaan kita hari ini, dari keturunan siapa, berwarna kulit apa, dan apa pun latar belakang pendidikan kita, yang pasti kita punya hak untuk sukses. Success is our right. Tinggal kita siap atau tidak untuk membayar harga!

Salam sukses luar biasa!!!
sumber ;    http://www.andriewongso.com/articles/details/12286/8-Spirit-Luar-Biasa-Bruce-Lee